omah Solo

Omah Solo - TB Simatupang

1/17/2012 Soya Yanagawa 0 Comments

Jika anda kebetulan sedang kelaparan, namun Cilandak Town Square (CiTOS) rame banget dan membuat anda malas untuk mampir, tidak ada salahnya jika anda mencoba rumah makan Omah Solo yang berada tepat di seberang CiTOS.
Omah Solo yang tepatnya di Jl. R.A. Kartini (Layaknya Jl. Gajah Mada dengan Jl. Hayam Wuruk yang hanya dipisahkan oleh kali, Jl. R.A. Kartini tepat bersebelahan dengan Jl. TB Simatupang yang dipisahkan oleh Jakarta Outer Ring Road) ini berada di sebuah rumah di sebelah toko buah All Fresh. Jadi, jika anda sudah melewati Toko All Fresh, berarti anda sudah melewatinya.

Rumah makan ini terlihat sangat sederhana, mungkin karena dahulunya rumah makan ini hanyalah sebagai rumah tinggal yang kemudian diubah menjadi sebuah rumah makan.
Uniknya, ketika kita masuk, ternyata banyak sekali environment yang ditawarkan. Ada tempat yang terlihat seperti teras dan berada di sebelah pintu masuk, ada yang untuk orang yang ingin bersantap sambil lesehan di sebelah kiri pintu masuk, ada pula tempat yang diterangi dengan lampu temaram, dan ada juga yang bagi penyuka tempat yang terang.

Dinding dari Omah Solo ini dipajang berbagai foto makanannya. Khusus untuk di bagian dalam yang penerangannya cukup terang, tertulis sejarah dari Es Dawet Pasar Gede, yang membuat orang yang membacanya menjadi penasaran akan es dawetnya.
Setelah kami duduk di tempat yang kita pilih, pramusaji akan meletakkan sebuah piring yang sudah berisikan makanan-makanan seperti telur puyuh yang di sate, hati dan ampla yang di sate dan lain sebagainya. Kemudian ada sebuah keranjang kecil yang berisikan berbagai macam krupuk. Seperti biasa, di setiap meja sudah tertata peralatan pendamping makan berupa saus sambal, cabe dan kecap manis serta lilin minyak yang cantik dan membuat kita semakin bersemangat menunggu 
Makanan yang kita pilih untuk datang.
Sebelum mereviewnya, Menu dari Omah Solo ini berbentuk satu lembar kertas tebal yang di satu sisi memperlihatkan jenis makanan dan yang sisi lainnya memperlihatkan menu paket, minuman dan makanan penutup. Pembagian-pembagian dari makanannya tertata dengan rapih di menu. Jadi menu Omah Solo tersusun dari jenis makanannya, ada nasi liwet, tengkleng, ayam bakar dan sebagainya.

Tanpa panjang lebar, mari kita review makanannya:
Ayam Lombok Hijau
Ayam yang digoreng kering ini dituang atau ditaruh cabe hijau yang sudah di potong dan ditumbuk bersama dengan bawang putih dan bumbu lainnya. Rasa dari ayamnya cukup gurih, ditambah dengan rasa pedas dari cabe Lombok hijau membuat ayam ini menjadi lebih sedap dan segar ketika memakannya. Ditemani dengan tempe goreng yang di goreng kering menambahkan variasi dan kelengkapan rasa masakan ini.
Nasi Liwet Ampela ati & Telur
karena saya bukan penggemar daging ayam, maka saya memesan nasi liwet ati ampela & telur. Nasi liwet ini terdiri dari nasi, satu butir telur rebus yang dipotong setengah, ati dan ampela, satu mangkuk kecil gulai dengan sayurnya, daging ayam yang di sisir dan sesuatu yang putih-putih (saya menduga itu putih telur) dan dilengkapi dengan tomat dan timun yang diletakkan di atas daun pisang.

Rasa dari nasinya cukup gurih, ditambah dengan gulai yang kental dan gurih serta ati ampela yang khas membuat nasi liwet ini cukup membuat saya terbayang kelezatannya sampai sekarang. Telurnya juga enak, di rebus kemudian diberi bumbu sehingga bagian luarnya berwarna kecoklatan dan rasanya lezat. Salah satu menu yang layak untuk di coba.
Tengkleng Bakar Iga Sapi
Untuk Tengkleng bakar ini, disajikan bersamaan dengan satu buah mangkok gulai, satu piring kecil sambal dan sayuran berupa potongan keimun dan satu buah tomat ceri. Tengklengnya dibakar dengan saus yang cukup meresap dan membuat tengkleng ini menjadi lebih gurih dan lezat. Tetapi kegurihan itu ditambah dengan gulai yang membuat rasanya semakin lezat.
Es Dawet
Menu terakhir yang saya akan review adalah es dawetnya. Melihat tulisan di dinding, saya menjadi penasaran dengan es dawet ini. Apa sih yang membedakan es dawet pasar gede dengan es dawet yang biasa

Ternyata begitu es dawetnya datang, saya langsung bisa melihat kekentalan dari santan dan isinya yang berupa ketan hitam, cendol dan sumsum diletakkan dalam mangkok yang cukup besar. Rasanya menyegarkan dan enak. Bisa dikatakan es dawet dari pasar gede yang legendaris itu ternyata cukup membuat hati puas ketika menyantapnya.

Sepertinya sekian review saya dari Omah Solo, dan lain kali saya akan mencoba menu lainnya yang ditawarkan oleh Omah Solo ini.

Salam

You Might Also Like

0 Comment: